Bung Karno, Basuki Abdullah, dan Lukisan Gatotkaca

Presiden pertama RI, Bung Karno, dikenal sangat mencintai seni lukis dan dunia pewayangan. Maka tak heran di suatu hari tahun 1950-an, ia meminta Basoeki Abdullah (satu dari sekian pelukis kesayangannya) membuatkan sebuah karya lukisan bertema pewayangan.

“Mengapa tidak melukis legenda keluarga Bima, prajurit besar dari keluarga Pandawa?” ujarnya kepada Basoeki Abdullah, seperti dikutip Agus Dermawan T. dalam “Bukit-Bukit Perhatian: Dari Seniman Politik, Lukisan Palsu Sampai Kosmologi Seni Bung Karno“.

“Itu gampang, kapan-kapan,” begitu jawaban Basoeki.

“Mengapa tidak melukis Gatotkaca dengan dua isteri kembarnya, Pergiwa dan Pergiwati?” desak Bung Karno lagi.

Paham maksud Si Bung, Basoeki pun menggoreskan kuasnya di atas selembar kanvas yang ukurannya tak biasa: 150×100 cm. Lukisan itu selesai dalam waktu beberapa hari.

Setelah rampung, Basoeki lantas memberi lukisan bergaya realis-naturalisnya itu dengan judul: “Gatutkaca dan Anak-Anak Arjuna Pergiwa-Pergiwati.

Menurut kurator seni Mikke Susanto, lukisan tersebut menggambarkan Gatotkaca tengah terbang layaknya Superman. Mata sang ksatria menatap tajam penuh asmara, sementara si kembar cantik Pergiwa-Pergiwati yang digambarkan cukup molek, saling berbeda pandang terhadap keberadaan Gatotkaca.

“Basoeki Abdullah melukiskannya di atas kanvas dengan ukuran yang aneh. Sepertinya memang permintaan khusus untuk ditempatkan di satu dinding kosong di Istana Merdeka. Bung Karno memesan tiga lukisan. Dua tentang Jaka Tarub, satu lagi yang Gatotkaca itu,” ujar kurator pameran lukisan koleksi Istana Kepresidenan di Galeri Nasional tersebut.

Gatotkaca dipilih karena tokoh pewayangan itu yang disukai Si Bung sewaktu menonton pertunjukan wayang. Gatotkaca adalah sosok ksatria gagah perkasa yang dianggap mirip dirinya sendiri.

“Gatotkaca kan ksatria Pringgondani yang sakti. Dari visualnya sudah nampak personifikasi. Pembawaannya gagah, punya tatapan tajam dan berwibawa. Nah, Gatotkaca dianggap presentasi dari Bung Karno sendiri,” kata Mikke.

Sebagaimana lukisan Basoeki Abdullah yang menggambarkan Nyai Roro Kidul, lukisan si kembar cantik Pergiwa-Pergiwati pun butuh model. Sayangnya, sampai sekarang Mikke belum menemukan siapa perempuan cantik yang menjadi model dalam lukisan itu.

“Lukisan-lukisan Basoeki Abdullah kebanyakan butuh model untuk mengukur atau memperkirakan posisi wajah. Untuk lukisan Gatotkaca tersebut, memang belum diketahui siapa modelnya. Kemungkinan besar model itu satu orang, namun dibuat berbeda angle,” ujar Mikke.

Dikutip dari Historia: “Hikayat Lukisan Gatotkaca” (EH)

Tinggalkan komentar