Masjid Kuno Mantingan, Perpaduan Budaya Hindu dan China

Mantingan adalah sebuah kota kecil yang terletak di Kabupaten Jepara, sekitar 78 KM dari Semarang. Kota tersebut menjadi terkenal karena ada masjid kuno yang sakral.

Ada mitos bahwa kaum wanita yang sudah menikah namun belum dikaruniai anak bisa mengambil buah pace yang jatuh disekitar makam untuk dibuat rujak. Insya Allah permohonannya akan dikabulkan-Nya.

Di sini juga ada ‘Air Keramat’ yang menurut kisahnya terbukti ampuh untuk menguji kejujuran seseorang. Tinggal meminum air keramat yang sudah diberi mantra dan doa, kejujuran atau kebohongan seseorang akan terbukti.

Masih ada beberapa lagi lagi kepercayaan yang sudah diyakini dan dijalankan turun temurun.

Sejarah Pembangunan Masjid Mantingan

Masjid Mantingan dibangun oleh Ratu Kalinyamat pada tahun 1559 Masehi. Perempuan perkasa ini adalah istri dari Sultan Hadiri yang dibunuh oleh Arya Penangsang.

Ratu Kalinyamat sangat bersedih dan terpukul karena meninggalnya sang suami. Kesedihannya diabadikan dengan membuat makam di daerah Mantingan beserta tempat ibadah yang kita kenal dengan Masjid Mantingan.

Pada saat membangun masjid ini Ratu Kalinyamat meminta bantuan Patih Sungging Badarduwung atau dikenal dengan nama Chi Hui Gwan. Jadi tidak mengherankan kalau gaya arsitektur bangunan masjid tersebut terpengaruh dengan budaya Hindu dan Cina.

Pengaruh Hindu Majapahit terlihat dari mustaka dan atap di bagian atas, juga adanya 114 relief yang terpasang di dinding. Sedangkan pengaruh budaya China terdapat pada penggambaran relief yang menyerupai barongsai.

Adapun relief yang ada terbagi dalam tiga jenis.

Pertama bercorak flora, berupa tumbuhan yang menjalar ada juga yang bentuk bunga teratai.

Kedua bermotif geometris.

Ketiga, bermotif binatang yang disamarkan, mengingat dalam pandangan Islam sosok manusia atau semua makhluk yang bernyawa tidak diperkenankan sebagai hiasan dekoratif.

Makam yang Berteras

Makam yang terletak di belakang masjid terdiri atas tiga bagian atau berupa teras yang dibatasi dengan gapura yang biasa terdapat pada candi-candi.

Teras pertama, terletak paling bawah merupakan pemakaman bagi masyarakat umum.

Teras kedua yang juga dibatasi dengan gapura, untuk pemakaman orang-orang yang status sosialnya lebih tinggi.

Sedangkan pada teras ketiga, teras yang paling atas adalah pemakaman yang digunakan untuk orang-orang dengan status sosial tertinggi, apalagi yang dimakamkan di cungkup.

Sampai saat ini Masjid Mantingan selalu ramai dikunjungi, terutama pada saat “Khool” atau peringatan wafatnya Sunan Mantingan. Biasanya bersamaan dengan upacara Ganti Kelambu yang diselenggarakan setiap tanggal 17 Rabbiul Awal.

Ini semua merupakan kekayaan budaya yang sarat dengan kearifan lokal dan harus dilestarikan.

-EH-

Tinggalkan komentar